• 24

    Jul

    Tegur Sapa

    Ada teman lama muncul di kotak chatting. Saya sapa. Saya tanya kabarnya, katanya beliau lagi baik-baik saja. Saya kecewa. Sejak kemarin, beliau adalah orang kesepuluh yang kabarnya baik-baik saja. Seingat saya, dari dulu-dulu, belum ada orang yang mengabarkan kepada saya bahwa katakanlah keadaanya lagi kelindas kursi, lagi dikejar lembu, lagi dibogem massa, dan macam-macam. Enggak ada yang begitu, semuanya baik-baik saja, atau paling banter, flu. Lebih gawat lagi, terjadi pada orang yang baru kita kenal katakanlah di halte, lagi sama-sama nunggu angkot. Perkiraan saya, semua akan mengabarkan baik-baik...
  • 10

    Apr

    Pemberitaan Praduga-Sesat: Keadilan Comeng

    Ditetapkan Muspida serta Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, tersebutlah 14 aliran ataupun ajaran sesat yang telah masuk ke Aceh. Daftar tersebut pada selanjutnya dimuat oleh harian lokalSerambi Indonesia (Kamis, 7/4). Selain ke-14 aliran sesat itu, ada pula daftar tambahan berisi 4 aliran yang belum ditetapkan, tapi masih dalam status praduga bersalah (sesat). Terbaca, sumber informasinya dari Pemda dan Polda Aceh. MPU telah disepakati umum memiliki pengetahuan luas di bidang agama Islam yang Ahlulsunnah Waljama’ah (Sunni), sehingga dipercaya untuk ber-fatwa, siapa saja yang benar siapa pula yang sesat. Kesepakatan umum telah meletakkan standar kebenaran di pundak MPU.
  • 25

    Mar

    Metafor Pengukuran

    Dalam pembicaraan sehari-hari di Aceh, saya menemukan beberapa unit pengukuran yang sifatnya relatif sekali. Pada dasarnya, unit-unit tersebut lebih condong pada semacam metafor untuk mempercantik bahasa, namun penggunaannya sudah cukup lazim sehingga—bagi yang benar-benar menyatu dengan kultur Aceh—tak berkesan sebagai metafor lagi. Sebagai contoh dalam bahasa Indonesia untuk metafor yang sudah tak berkesan metafor lagi, mungkin pada kalimat: “tumpukan sampai itu telah menggunung (perhatikan kata ‘menggunung’ yang berdasar kata ‘gunung’).” Ada banyak lagi ungkapan-ungkapan sejenis itu. Ok, di bawah ini metafor-metafor dalam bahasa Aceh yang dipakai untuk mengukur unit pengukuran tertentu, yang kemarin sore mengusik saya gara-gara di warkop
  • 20

    Mar

    Sejujurnya Saya Adalah Penipu

    Suatu ketika saya pernah di-chat koneksi facebook yang juga suka ngintip-ngintip blog ini, “kok, terkesan dari status facebook atau postingan blog, hidupmu senang terus?” Saya jawab: “e jangan ngejek ya, yang namanya manusia itu selalu mengalami susah senang, swear, saya manusia!” Oleh karena teman tadi masih goyah kepercayaannya bahwa saya juga manusia, besoknya ia bertanya lagi, lagi dan lagi, sampai akhirnya saya membikin pengakuan: “sejujurnya saya adalah penipu.” Hobi saya untuk menipu sebenarnya bermula dari pepatah Arab kuno yang bunyi terjemahannya kira-kira begini: “simpan kesedihan, bagi kebahagiaan.” Jadi ketika sedih saya cenderung menipu dengan cara menyimpan kesedihan tersebut pada tempat persembunyian yang privat (cuma dibagi
  • 17

    Mar

    Mengenang Playlist

    Saya percaya, tiap orang memiliki suatu perilaku yang hanya diketahui oleh sahabat terdekat mereka, atau bahkan hanya diketahui oleh yang bersangkutan saja. Perilaku-perilaku unik itu hanya muncul saat berada di tempat privat, misalnya ngomel dengan cermin; menertawakan rakyat; nyanyi sambil mandi; hitung pendapatan korupsi; tidur telentang dengan kaki naik ke dinding; meniru gerakan kungfu si Bruce Lee; membungkus bom dalam kotak kado; dan macam-macam. Dulu, saya punya suatu kelakuan yang hanya muncul jika lagi di kamar sama satu dua sahabat dekat saja, apalagi sendirian. Ada lagu-lagu tertentu yang sanggup bikin saya berdiri lalu jingkrak-jingkrak, atau setidaknya ngangguk-ngangguk sampai pegal tulang leher. Sekarang? Saya geli sendiri jika kebetulan terkenang yang dulu-dulu itu. Jadin
- Next

Author

Follow Me

Search

Recent Post