Bola Voli Plastik

30 Mar 2010

Sekian waktu menggerebek rak-rak dalam pustaka ingatan, saya kepayahan menemukan pengalaman jahil sebab pada dasarnya memang enggak jahil. Padahal sekarang lagi ada kontes postingan bertema pengalaman jahil di blog-nya Jelita grup. Benar, itu grup yang digawangi para perempuan jelita yang sedang bercengkrama di salah satu sudut ruang ingatan saya. Masing-masing tangan mereka memegang ulekan sambal. Sebab tak mau ambil resiko kepala benjol, maka terus saja saya menggerebek sampai cairan keringat meleler pada cuping hidung. Akhirnya dapat satu. Entahlah kejahilan itu layak dibanggakan atau tidak, saya tak peduli. Yang penting posting, tengkorak aman.

Manuskrip pengalaman itu saya tarik keluar dari rak. Kena tepuk beberapa kali, debu yang dibawa jaman mengepul-ngepul bikin hidung bersin-bersin. Pada sampulnya tertulis Bola Voli Plastik’. Ada ilustrasi-nya, bergambar tiga bocah yang sedang melamun diteduh pokok kelapa. Codet, Ridan dan Nyaknyak. Mereka baru pulang sekolah makanya masih bercelana pendek warna merah. Terik matahari menggambari pola-pola kelabu berbentuk nyiur pada tanah. Melambai-lambai. Tiba-tiba Nyaknyak berseru: “O iya, si Pikar!” Bibirnya melebar kegirangan sampai-sampai barisan gigi yang sebelah atas nyaris kelihatan seluruhnya.

Pikar punya duit jajan yang lumayan. Dia adalah solusi tepat untuk permasalahan yang sedang dihadapi tiga bocah orang tadi. Mereka tak punya duit buat beli bola plastik untuk divoli-voli. Padahal lapangan, yang berukuran sekitar dua kali enam meter, sudah siap main. Net-nya terbuat dari tali plastik juga, yang dirajut oleh mereka sendiri semalam. Batang bambu dibelah-belah cukup tipis untuk dijadikan garis pembatas lapangan. Sayang jika lapangan yang sudah siap tak ada bolanya. Sedangkan Bang Mae, pemilik toko kelontong di Keude Nibong, tentu belum kepikiran untuk jadi sponsor resmi olahraga voli plastik tiga bocah tadi.

Mengajak Pikar ikut main resikonya rusak acara. Postur tubuhnya cocok untuk menakut-nakuti tim voli plastik kampung sebelah sebab ia rada besar di antara bocah sebaya. Hitam pula. Tapi ia tak mahir main voli lagipula sensitif. Tersinggung sedikit, kalau bukan merusak net atau mengajak berkelahi ya menangis. Padahal ada potensi pada sosoknya yaitu duit. Dia berpotensi untuk jadi sponsor tak resmi. Untunglah Nyaknyak tahu persis bahwa Pikar suka melayu kalau papasan sama Dek Nong, perempuan sekelas mereka di tingkat enam SDN Keh Nibong. Itu kelemahan Pikar yang bisa dimodifikasi jadi kekuatan tim voli plastik yang hiatus sebab absen bola.

Nyaknyak menambahkan: “kita bikin seolah-olah Dek Nong titip surat untuk dia tapi kita simpan suratnya sampai dia mau barter dengan bola.” Selanjutnya tiga kepala bocah nyaris berantukan sebab berebut lihat secarik robekan kertas buku yang lagi ditulisi kata-kata cinta ini itu oleh Codet. Sekali-sekali mereka terpingkal ketawa.

Surat siap di-kurir-kan lengkap dengan tanda tangan romantis yaitu, pola merah yang dibikinkan Codet dengan cara mengoleskan lipstik pada bibirnya banyak-banyak lalu mencium kertas surat lekat-lekat. Jadilah bibir merah monyong basah-basah di bawah tulisan Salam Manis’. Ridan sedang menuntaskan tugas kurirnya saat Nyaknyak dan Codet mengintip sebalik semak-semak. Mula-mula Pikar tak percaya sampai Ridan sekilas menunjuki surat itu kepadanya. Pikar melayu memerah jambu. Simbol-simbol rupiah berserak pada senyum girangnya. Perjanjian bilateral disetujui kedua belah pihak. Bang Mae ketimpa rahmat sebab bolanya laku dua bundar.

Tim voli plastik teraktivasi dalam tempo sesingkat-singkatnya! Sedangkan Pikar melipat surat kecil-kecil lalu menyelipkan dalam saku celana, dibawa serta kemana-mana. Kalau lagi tak ada orang, dibuka lalu dibaca berkali-kali tapi tak pernah berani bicara dengan Dek Nong.

Lebih dari dua puluh tahun kemudian, Pikar menikah dengan selain Dek Nong yang sudah duluan menikah dan beranak di Medan. Nyaknyak yang memulai karirnya dari voli plastik menjadi andalan tim voli Aceh Utara dan membiayai kuliahnya dengan cara jadi pemain panggilan antero Aceh. Ridan memiliki bakat voli pantai yang bagus namun tak bisa dikembangkan soalnya ada kelainan pada mata sehingga musti memakai kacamata plus empat (berlensa cekung dan tebal sekali). Sedangkan Codet yang postur tubuhnya tak kunjung jangkung, berhasil jadi pemalas ulung.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post