Abstain

12 Jan 2011

Wajah tegang itu milik teman, di mana sepasang mata sedang dibelalakkan ke arah saya. Kan pada bagian putih mata orang ada urat-urat halus? Nah, urat-uratnya sampai merah nunggu dikedipkan tapi enggak kunjung kejadian. Jaraknya ke wajah saya cuma semeter. “Iya kan?” suara wajah itu.

Selama kami ngobrol, fenomena di atas terjadi rata-rata lima menit sekali. O bukan sepenuhnya ngobrol tapi, nyaris bisa digolongkan sebagai monolog sebab saya cuma mengangguk-angguk atau sesekali senyum. Bukannya lagi malas ngomong tapi tak sempat. Tiap kali saya mengacungkan tangan kepingin bilang sesuatu, baru saja mulut terbuka setengah, baru saja sempat berbunyi “aaa”, beliau telah duluan ngomong lagi.

Untuk meningkatkan keahlian berkomunikasi, saya suka latihan jadi pendengar sehingga tak jadi masalah jika ngobrol dengan orang kemaruk ngomong. Saya tak menolak untuk diam berpuluh-puluh menit demi menyerap omongan seseorang; bahkan tak menolak untuk diam terus sampai obrolan selesai jika memang kondisi meminta. Tapi sebagian orang sukses meletakkan saya dalam posisi dilematis, khususnya mereka yang suka menyisipkan pertanyaan “iya kan?” siap bertutur satu dua kalimat. Frekuensi pertanyaan begitu biasanya rapat, tiga atau lima menit sekali. Bolehlah jika sepenuhnya mendukung maka saya akan mengangguk-angguk atau bilang “yep”. Bagaimana kalau perlu waktu untuk pikir-pikir dulu? Bagaimana kalau enggan beri dukungan?

“Bukankah begitu?”

Waaah… menemukan saya yang senyam-senyum saja, teman tadi kembali mengail dukungan. Kebetulan saya lagi enggan beri dukungan tapi prihatin jika sontak menjawab “bukan!” atau cepat-cepat menggelengkan kepala. Saya prihatin sebab tipikal pe-ngobrol segaya itu biasanya tak menduga respon negatif. Hal-hal tak terduga tentu mengejutkan.

Saya masih diam.

“Ya enggak?”

Akhirnya saya memutuskan untuk senyam-senyum saja, serta setengah mampus menahan kepala agar tak terangguk-angguk ataupun geleng-geleng. Saya tarik kedua ujung bibir melebar sejauh mungkin ke arah kuping agar senyum berkesan ramah sekali.

“Jadi… bla… bla… bla… “

Berhasil!

Beliau tak mengindahkan posisi saya yang abstain. Dan obrolanpun berlanjut. Saya menyeruput kopi dengan hati lega lantas menjatuhkan badan ke senderan sofa. Bagi saya, tak begitu mudah untuk berposisi abstain dengan cara beri senyum tanpa mengangguk-angguk sembari terus menyimak obrolan. Jika memang enggan mendukung lebih mudah bilang ‘enggak’ atau ‘bukan’, tapi dengan begitu lunturlah semangat teman yang lagi giat-giatnya membahas sesuatu.

Dengan giat berlatih, yang enggak mudah lama-lama jadi mudah juga sebab terbiasa.

“Iya kan?”


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post