Sepiring Perangai

5 Mar 2011

Entahlah benar atau salah, pokoknya saya pernah dengar kata orang jenis makanan mempengaruhi perangai seseorang. Daripada menilai ini benar itu salah, baiklah saya mau memeriksa diri sendiri saja supaya ada bahan untuk nge-blog.

Seperti umumnya orang Aceh, makanan pokok saya adalah nasi dengan lauk-pauk standar ikan beserta sayur mayur plus emping kalau ada. Di sela-sela itu, saya juga sering makan kates madu, pisang goreng, atau peyek kacang. Jenis-jenis lain ada juga tapi enggak usahlah disebut satu persatu.

Kita ambil sampel dari makanan berat saja, ya.

1) Nasi berasal dari beras. Tikus doyan beras tapi makannya sambil lihat kiri kanan, mengendap-endap, tipikal maling. Ah iya… untung ada burung pipit! Pipit suka beras juga lho, apalagi padi. Bukan pipit namanya kalau tak bersuara merdu.

2) Jika ada yang doyan makan sayur, siapa saja itu, serta merta saya teringat kambing. Enggak percaya? Tanamlah sayur mayur di halaman rumah anda lalu lepaskan kambing ke situ, anda akan lihat sendiri. Jelaslah kambing malas mandi, suka berak sembarangan dan menjalani kehidupan free-sex. Meskipun begitu, ‘kan dokter juga yang beri nasehat agar makan sayur banyak-banyak? Saya mengikuti nasehat dokter.

3) Ikan? Tolong simpan di tempat yang aman dari kucing! Yup, di Aceh, mereka suka makan ikan, entah kalau kucing di kawasan anda berdomisili. Yang sadis dari kucing adalah, seekor jantan dewasa tega menggigit anak sendiri supaya tak ada saingan kalau besar nanti. Saya pernah menyaksikan itu: setengah badan bayi kucing kena digigit sampai kelihatan usus, tapi masih hidup ngeong-ngeong. Untungkah para kucing betina punya keahlian kungfu yang setara dengan jantan sehingga bisa beri proteksi yang memadai bagi anak-anaknya. O iya, kucing disimbolkan sebagai sesuatu yang seksi pada dunia manusia di Barat sana.

4) Pernah suatu kali emping saya tercecer di lantai tak lama kemudian semut mengerumuni. Tentu saja mereka mau makan bukan mau nonton emping. Komunitas semut biasanya dianalogikan sebagai pekerja yang menjunjung semangat team-work. Cerai berai mereka lemah, bersatu mereka sanggup menggotong emping.

Nah, sekarang jelaslah sudah bahwa dalam sepiring makan siang saya ada bayangan tikus, pipit, kambing, kucing, dan semut yang siap saya telan. Jelaslah sudah bahwa saya mengkonsumsi jenis makanan yang binatang-binatang tadi juga doyan. Benarkah perangai saya adalah akumulasi dari perangai-perangai binatang? Saya rasa iya, makanya ada jenis ramalan kuno yang mengira-ngira perangai seseorang dari aspek kebinatangan yang dominan, apakah itu didominasi perangai tikus atau kucing atau yang lain.

Tak perlu malu atau cemas. Memang Tuhan sudah mengkondisikan begitu sebagai tantangan bagi ruh manusia untuk eksis dalam keroyokan perangai binatang dalam diri mereka sendiri. Bukankah seseorang baru bisa dikatakan hebat jika telah berhasil memenangkan tantangan?

Berpeganglah hanya kepada Allah maka kita pasti menang!

“Hayya ‘alal falah!”


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post