Ngobrol Sama Tanaman

7 Mar 2011

Suatu ketika Bang Razak lagi di Langsa. Beliau menelpon, minta tolong agar tanaman-tanaman di halaman rumah beliau agar saya siram pakai air. Dengan gumpalan malas yang memberati pantat, saya ngesot ke rumah beliau, merangkak ke kran air, putar kran, lalu selang air meliuk-liuk macam ular sampai… byuuur… keluar di ujungnya. Baru kali itu saya jengkel melihat selang mengeluarkan air.

Banyak pula itu Bang Razak miara tanaman. Saya siram setengah hati (setengahnya lagi itu hati memeluk papan catur skak). Tanaman kecil dalam pot-pot kecil, pada tembok yang agak tinggi, saya sirami sampai jatuh berguling-guling ke tanah.

E tapi lama-kelamaan, saya teringat sejarah nabi Sulaiman yang bisa ngobrol dengan binatang dan tumbuhan. Kok saya enggak bisa? Saya dengarkan pelan-pelan, tapi yang terdengar cuma byur-byur air. Mungkin karena saya menyiram dengan kasar? Orang saja, kalau disiram air secara kasar akan ngambek bicara seminggu atau lebih, apalagi tanaman?

Saya melembut. Saya tutup ujung selang pakai jempol sedemikian rupa sehingga air keluar nyebar (bukan kayak air keluar dari selang pemadam kebakaran seperti tadi).

“O tanaman-tanaman, ajaklah saya ngobrol sore-sore.”Enggak ada juga yang ngobrol.

Selang saya condongkan ke atas. Saya sebarkan air ke udara, yang lalu jatuh ke tanaman serupa hujan. Criiis… criiis… dedaunan goyang-goyang manja. Bunga-bunga melambai sukarela, ke arah saya.

Saya ketagihan.

Saya berlama-lama nyiram. Saya mulai menyukai kerjaan menyiram tanaman. Dan hari itu, sejak jam 5, saya baru menyiapkan siram-menyiram tepat semenit sebelum azan magrib.

Saya rasa-rasai dedaunan goyang-goyang dan bebungaan lambai-lambai.

***

Teringat saya akan Bang Zubir yang waktu itu lagi cerita tentang salah seorang dari walisongo (kata Bang Zubir nengok di sinetron), kalau enggak salah Sunan Kalijaga. Suatu hari Sunan Kalijaga dicegat perampok. Tongkat beliau dirampas. Melihat Sunan tersungkur, para perampok ketawa, “baru tongkat yang diambil, sudah nangis, cemen.” Sang Sunan menjawab, “saya menangis bukan karena kalian, tapi sedih karena telah mencerabut sejumput rumput yang tak perlu dicerabut.” Kepada perampok Sunan memperlihatkan sejumput rumput yang renggut tak sengaja saat beliau tersungkur tadi.

***

Dari jauh, saya masih memperhatikan tanaman-tanaman yang saya sirami tadi. Dedaunan makin hijau. Segar dan goyang-goyang. Warna bebungaan semakin kentara. Marak dan lambai-lambai.

Saya perhatikan terus. Saya rasai-rasai.

Tanaman-tanaman tak juga kunjung bicara tapi sore itu emosi kami saling berkait. Ada getaran aneh. Enggak tahu cara ceritanya tapi ada.

Indah.

Alam berbicara, dalam bahasa yang tak kita pahami. Apatiskah manusia?


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post