Mempesiangi Ikan

9 Mar 2011

Ada gotong royong sekaligus makan nasi pecel bersama habis zuhur. Kebagian job mempesiangi ikan maka jongkoklah saya di samping ember berisi ikan segar. Matahari jam 12 siang mengilaukan mata pisau.

Saya melamun sebentar sambil memperhatikan sepotong ikan yang telah saya angkat keluar dari dalam ember (ikannya kira-kira berbadan selebar tiga jari dengan panjang 15 cm, namanya entah). Saya cukup jarang mempesiangi ikan sehingga perlu mengingat-ingat kembali apa saja yang perlu dipotong. Saya berusaha mengimajinasikan ikan goreng yang dijual di warung-warung, dan mengenang-ngenang jika pernah nonton orang lagi mempesiangi ikan. Berdasarkan imajinasi dan kenangan yang berhasil terkumpul, mulailah saya bekerja.

Saya letakkan ikan yang mau dipesiangi pada telenan kayu. Moncongnya saya potong (sebab pisaunya agak tumpul, waktu saya tekan pisaunya, mata ikan keluar masuk, mengerikan). Hmmm… tentu saja orang-orang malas makan sirip ikan, itu juga saya potong. Ujung ekor saya rapikan sehingga jadinya rata, enggak bercabang dua. Ikannya jenis yang enggak bersisik maka pekerjaan jadi ringan sedikit.

Bagian luar siap, sekarang bagian dalam.

Saya lepaskan pelipis ikan yang di bagian belakang sampai kelihatan insang merah-merah. Ada binatang laut berkaki banyak kesangkut dalam insang, itu saya buang. Waktu insang saya tarik keluar, ada organ mirip usus, hati dan jantung mungil ikut keluar, sekaligus cairan kental berwarna merah kehitaman. Amis.

Biar bersih, bagian bawah ikan juga saya belah serapi mungkin. Kuak pakai ujung pisang sampai organ-organ enggak penting yang masih tertinggal dalam rongga perut ikan terlihat: itu saya keluarkan satu persatu.

Berhasil, sepotong ikan telah bersih dipesiangi :-) Lagi berbangga-bangga sendiri dengan keberhasilan itu, datanglahBang Adi sambil bawa gunting, “wah, lama sekali siap kalau begitu caranya, pakai gunting sajalah biar cepat.” Lalu ia demo kiat mempesiangi ikan secara enggak lambat. Ujung gunting dimasukkan ke dalam moncong ikan lalu… cras-cras-cras… membelah sejak dari bagian bawah moncong ikan terus ke belakang sampai terkuak rongga perut. Pakai tangan, insang beserta seluruh organ dalam perut telah bersih sekali cabut. Semua sirip digunting, lalu siap.

Cepat tangkas dan rapi!Saya ambil gunting satu lagi, lalu mulailah ikan-ikan kami gunting satu persatu. Bahkan kucing-kucing yang menunggui kami seakan tak percaya kalau ikan sebanyak itu telah keburu siap dipesiangi.

Untunglah Bang Adi datang jadilah kami makan nasi pecel ikan goreng pas pada waktu makan siang. Kalau saya sendiri yang mempesiangi (dengan cara saya sendiri juga) bisa jadi lain kejadiaanya: sepotong ikan saja berongkos beberapa tetes keringat di dahi.

Segala pekerjaan, asal kita tahu tehnik-nya, memiliki cara termudah untuk diselesaikan. Semakin bijaksana seseorang maka ia akan sanggup menyelesaikan pekerjaan (juga masalah) dengan cara termudah dan waktu tercepat, bukan sebaliknya. Dengan hasil yang memuaskan tentu.

Hari itu saya telah belajar cara mudah mempesiangi ikan (khusus untuk yang berukuran sedang), juga cepat siap. Siapa tahu suatu hari nanti bisa dapat cara lebih bijaksana: sekali kedip siap seekor.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post