Sejujurnya Saya Adalah Penipu

20 Mar 2011

Suatu ketika saya pernah di-chat koneksi facebook yang juga suka ngintip-ngintip blog ini, “kok, terkesan dari status facebook atau postingan blog, hidupmu senang terus?” Saya jawab: “e jangan ngejek ya, yang namanya manusia itu selalu mengalami susah senang, swear, saya manusia!” Oleh karena teman tadi masih goyah kepercayaannya bahwa saya juga manusia, besoknya ia bertanya lagi, lagi dan lagi, sampai akhirnya saya membikin pengakuan: “sejujurnya saya adalah penipu.”

Hobi saya untuk menipu sebenarnya bermula dari pepatah Arab kuno yang bunyi terjemahannya kira-kira begini: “simpan kesedihan, bagi kebahagiaan.” Jadi ketika sedih saya cenderung menipu dengan cara menyimpan kesedihan tersebut pada tempat persembunyian yang privat (cuma dibagi ke orang terdekat saja). Saya enggak tahu apakah penipuan jenis begitu perlu diberantas atau enggak. Yang jelas, berdasarkan pengalaman pribadi, kesedihan akan berkurang lantas lama-lama hilang jika ada usaha untuk menyimpan atau, paling tidak, meredamnya.Sebaliknya jika selalu berusaha untuk membagi kebahagiaan maka kebahagiaan kita sendiri akan bertambah-tambah.

Sebab kesedihan ataupun kebahagiaan berkaitan dengan rasa maka yang disimpan atau dibagi adalah isi hati. Di postingan ini, saya hanya mengkhususkan pada penyimpanan atau pembagian isi hati bermedia teks, makanya berkaitan juga dengan trik membikin kalimat berenergi positif.

Menurut hemat saya, ada tiga jenis gaya berkalimat yaitu, mencurahkan isi hati (aku senang; abstrak); menceritakan objek yang terlihat (aku loncat-loncat; real); dan gabungan dari keduanya (aku senang maka loncat-loncat). Nah, jika lagi sedih maka sebisanya menghindari berkalimat dengan gaya mencurahkan isi hati, simpan itu, tapi ceritakan hal-hal yang terlihat mata. Katakanlah ketika akan mengetik sesuatu e ada kucing nongkrong di atas monitor, maka bisa jadi kalimatnya begini: “ada kucing nongkrong di atas monitor komputerku, help!” Atau katakanlah lagi mellow setengah mampus sehingga melamun lewat jendela lantas iseng-iseng mau ngetik sesuatu, maka bisa jadi kalimatnya begini: “jendela itu berkosen kayu coklat, gordennya berlipat-lipat.”

Meskipun begitu, setiap orang tentu saja memiliki perspektif masing-masing terhadap dunia, yang ujung-ujungnya membentuk beragam karakter. Keragaman itulah yang sebenarnya bikin indah.

Selama enggak ada orang lain yang terbunuh sesiap kita bagi kesedihan ataupun kebahagian maka setiap orang sah-sah saja mau membagi apa.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post