Metafor Pengukuran

25 Mar 2011

Dalam pembicaraan sehari-hari di Aceh, saya menemukan beberapa unit pengukuran yang sifatnya relatif sekali. Pada dasarnya, unit-unit tersebut lebih condong pada semacam metafor untuk mempercantik bahasa, namun penggunaannya sudah cukup lazim sehingga—bagi yang benar-benar menyatu dengan kultur Aceh—tak berkesan sebagai metafor lagi. Sebagai contoh dalam bahasa Indonesia untuk metafor yang sudah tak berkesan metafor lagi, mungkin pada kalimat: “tumpukan sampai itu telah menggunung (perhatikan kata ‘menggunung’ yang berdasar kata ‘gunung’).” Ada banyak lagi ungkapan-ungkapan sejenis itu.

Ok, di bawah ini metafor-metafor dalam bahasa Aceh yang dipakai untuk mengukur unit pengukuran tertentu, yang kemarin sore mengusik saya gara-gara di warkop si Jol meng-order, ” bang, mie goreng satu ya, dibikin pedas siangen”.

1. Dua

Kesepakatan internasional bahwa unit ‘dua’ berada tepat di tengah-tengah antara unit ’satu’ dan ‘tiga’, belum sepenuhnya mendapat pengakuan di Aceh. Katakanlah ketika menggunakan unit ‘dua’ untuk menunjukkan hitungan buah, maka pernyataan ‘enggaaak, cuma belanja dua buah belimbing kok?’ yang ditujukan pada basa-basi “wah, borong ya”‘, maka itu tak serta merta berarti ‘dua buah’, tapi bisa juga berarti tiga buah, empat buah, lima-belas buah, bahkan bisa juga berarti segoni buah belimbing. Pancaran kesannya adalah sifat merendah, dan pada beberapa konteks lain bisa juga berkesan segan atau malu-malu.

2. Sibak Rukok Treuk (Sebatang Rokok Lagi)

Lazim dipakai untuk meramal sisa waktu yang dibutuhkan untuk mencapai goal dari suatu perencanaan jangka panjang. Secara harfiah kebahasaan, ’sibak rukok treuk’ sama dengan lamanya waktu yang dibutuhkan bara untuk menghabiskan sebatang rokok, katakanlah sepuluh menit. Sedangkan pada penerapannya berlaku bias yang mencengangkan. Jika anda bertanya, “berapa lama lagi sih?” lantas mendapat jawaban “sibak rukok treuk”, maka bisa berarti ’setahun lagi’, ’sepuluh tahun lagi’, ‘tiga puluh tahun lagi’, bahkan dalam nada olok-olok bisa juga menunjukkan sembarang titik waktu pada beberapa milenium ke depan. Pancaran kesannya adalah motivasi, biar penanya yakin bahwa goal pasti tercapai.

3. Siangen (satu angin)

Dipakai untuk mengidentifikasi perbedaan tipis antara dua materi maupun sifat. Untuk tujuan pembahasan di sini, asumsikan saja kita lagi menimang-nimang sepasang sepatu baru, meneliti, siapa tahu lebih besar atau berat sebelah. Sebegitu tipisnya perbedaan yang hendak diketahui: sampaipun perlu memejamkan sebelah mata (bagai sniper membidik target) untuk mengecek perbedaan besar; sampaipun perlu memejamkan kedua mata agar sensitifitas indera perasa jadinya cukup maksimal untuk mengecek perbedaan berat. Yah, namanya juga perbedaan sebesar satu (partikel?) angin. Begitu perbedaan teridentifikasi, yang bersangkutan akan bergumam sendiri atau bilang ke temannya, “besar/berat yang sebelah kiri siangen”, sambil menunjuk sepatu yang lebih besar/berat itu.

4. Meunyo ta ludah ie babah han troh, meunyo ta rhom aneuk batei leupah (Terlalu jauh untuk diludahi, terlalu dekat untuk dilempari batu)

Nah, ini dia juaranya :lol: Khusus untuk yang ini, saya hanya sekali mendengar, dari seorang teman. Jadi bisa dikecualikan sebagai yang enggak lazim dipakai. Ketika itu, si teman hendak menginformasikan lokasi rumahnya. Katanya begini (saya sadur ke Bahasa Indonesia): “Kalau kau berdiri di belokan jalan itu, di arah kiri ada rumah yang letaknya terlalu jauh untuk kau ludahi tapi terlalu dekat untuk kau lempari batu. Itu rumahku.” Yup, jelaslah metafor itu berusaha mengukur dimensi jarak.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post