Tegur Sapa

24 Jul 2011

friends_shaking_handsAda teman lama muncul di kotak chatting. Saya sapa. Saya tanya kabarnya, katanya beliau lagi baik-baik saja. Saya kecewa. Sejak kemarin, beliau adalah orang kesepuluh yang kabarnya baik-baik saja. Seingat saya, dari dulu-dulu, belum ada orang yang mengabarkan kepada saya bahwa katakanlah keadaanya lagi kelindas kursi, lagi dikejar lembu, lagi dibogem massa, dan macam-macam. Enggak ada yang begitu, semuanya baik-baik saja, atau paling banter, flu.

Lebih gawat lagi, terjadi pada orang yang baru kita kenal katakanlah di halte, lagi sama-sama nunggu angkot. Perkiraan saya, semua akan mengabarkan baik-baik saja. Alhamdulillah kalau memang baik-baik saja, tapi yang misalnya sedang sakit gigi atau dililit hutang, pun ikut-ikutan kabari ’saya baik-baik saja’. Semua mencoba untuk tersenyum.

Boleh dikatakan, setiap mau bertanya ‘apa kabar?’, kita sudah bisa memperkirakan bahwa jawabannya adalah ’saya baik-baik saja’. Namun, kita tak kapok bertanya.Setelah berbicara beberapa lama, barulah ‘kabar baik’ itu mengelupas selapis demi selapis, tergantung kepiawaian dan kedekatan mereka yang terlibat dalam percakapan, sampai ketahuanlah kabar-kabar sebenarnya. Tak banyak ya sedikit. Kalau sudah begitu, barulah terjalin ikatan emosional, barulah mendekat dua orang yang tadinya jauh.

Sapaan ‘apa kabar’ terasa hambar, tapi perlu, sebagai pembuka pintu percakapan, khususnya bagi orang-orang yang tak sering ‘kali bertemu.

Dan, sekarang saya mau menyapa para blogger: “Apa kabarnya kalian?”

Mohon jangan segan-segan untuk memberikan jawaban yang mengecewakan saya. Memang sudah seyogyanya begitu. Saya tak menuntut jawaban jujur sekali, tapi cuma berniat menjalin silaturrahmi.

——-

Link gambar:www.clipartheaven.com


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post